Page 20 - ebook_Berpikir Bersama Artificial Intelligence
P. 20
baru. ASN dituntut untuk mengembangkan cara berpikir
baru. Jika sebelumnya kompetensi digital diukur dari
kemampuan mengoperasikan aplikasi, maka pada era AI
kompetensi tersebut berkembang menjadi kemampuan
berkolaborasi dengan AI, memverifikasi informasi,
mengelola risiko, serta mengambil keputusan yang tetap
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan etika.
Pandangan tersebut juga sejalan dengan
Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence yang
diterbitkan UNESCO. Rekomendasi tersebut menegaskan
bahwa pengembangan dan pemanfaatan AI harus berpusat
pada manusia (human-centered), menjunjung hak asasi
manusia, menjamin adanya pengawasan manusia (human
oversight), transparansi, akuntabilitas, serta perlindungan
terhadap privasi dan martabat manusia (UNESCO, 2021).
Bagi ASN, prinsip tersebut memiliki makna yang sangat
penting. AI dapat membantu menyusun alternatif solusi,
menganalisis informasi, bahkan menghasilkan konsep
dokumen dalam hitungan detik. Namun AI tidak pernah
memikul tanggung jawab hukum atas dokumen tersebut.
Tanggung jawab itu tetap berada pada aparatur yang
menggunakan dan memutuskan untuk memanfaatkannya.
Di sinilah saya melihat bahwa transformasi digital
pemerintah tidak cukup hanya membangun infrastruktur,
aplikasi, atau pusat data. Yang jauh lebih penting adalah
membangun budaya kerja digital yang menempatkan AI
sebagai mitra berpikir (thinking partner), bukan sebagai
pengganti pertimbangan profesional seorang ASN. Tanpa
budaya tersebut, teknologi secanggih apa pun justru
10
Berfikir Bersama Artificial Intelligence

